Pre Marriage Syndrome

Dua kata Stres dan Full , stress aja udah ga enak in pake ditambahin full pula… Im officially in that condition right now😦 Why ? Mungkin…karena saya sedang dalam masa pre marriage syndrom , bawaanya ribet mulu nyiapin Kursus perkawinan, Kanonik , surat – surat dan hari H nanti *God help me pleaseee..* Untungnya ada mama tercinta yang selalu siap menghadapi apapun *yep my mom is my superhero!!!*

Kalau dalam segala macam selera sekarang kami sudah bisa klop, tapi soal persiapan mama emang udah wanti -wanti sama aku,

“Pokoknya kalau soal persiapan dan wara-wiri itu udah mama aja, kalian berdua itu  ga usah repot, nanti malah ga jadi dan hasilnya gak maksimal” *dengan suara pelan dan sangat dramatis*

trus aku mikir juga, iya sih, bener juga, soalnya apa ? aku ada di malang dan cami ada di jakarta, kami berdua sudah sangat sibuk sekali dengan urusan kantor , dan nikahnya di solo @__@ , boro-boro mau mondar mandir deal ama berbagai macam vendor,  mondar-mandir urusan administrasi dan surat-surat aja nyari waktunya susaaah  sekali ,harus pas libur , apalagi camiku yang kalau udah di kantor dari senin-sabtu, ya udah ga bisa keluar-keluar ngurusin petata petete … Prewed pun sudah kita hapuskan dari angan2 karena susah ketemunya harus ikut tanggal merah, hufff *tapi lucky us dulu kami sempet foto2 iseng prewed gt waktu masih di jogja, jadi punya stok lah🙂

Ya memang sih, aku mengakui bahwa kalau sudah bekerja, kelemahan LDR dan menikah di kota yang beda dengan kota tempat tinggal itu ya begini ini, waktu terbatas dan ribet. Apalagi dengan camiku yang kepengen berperan serta juga tapi apa daya waktu tak sampai. *kadang aku mikir kalaupun tinggal sekota, kita baru bisa ngurusin ini ini itu pada sore hari setelah pulang kantor atau akhir pekan, dimana kebanyakan vendor-vendor udah pada tutup, sama aja gak efektif kan sebetulnya.tetep perlu bantuan orang. Berdasarkan pengalaman beberapa keluarga yang pernah mengurusi anaknya pernikahan dan anak-anaknya sekota pun juga gak maksimal hasilnya, kecuali kalau pengantinnya masih pada pengangguran yang jelas punya banyak waktu luang.

Karena memang kurang pengalaman dan hey..we cannot live alone, need someone to help us. Memang sih setiap manusia apalagi yang punya acara pasti pengen dong membantu berperan, tapi di satu sisi lain kita juga harus bisa melihat dan ngaca sama diri kita sendiri, mampu gak? ntar sok-sokan mampu, malah hasilnya NOL, gawat kan, membawa nama baik keluarga besar.

Akhirnya berbekal pengertian yang amat sangat itu, aku menyerah, okay I reallyyyyy need your help moooommmmyyy😦 Then mamaku resmi menjadi WOku sendiri yang wara wiri denpasar-solo untuk ngurusi semuanya.

Sedangkan, Tugas kami berdua adalah

  1. kursus perkawinan,
  2. kanonik,
  3. mengurus surat-surat pernikahan catatan sipil,
  4. menyusun buku acara pemberkatan dan
  5. administrasi gereja lainya  ** 5 ini aja udah ribet gan, karena semua harus diurus di KTP asal, which is mean cami di malang dan aku di denpasar! hiks..

Life’s Simply learningnya adalah  ngurus nikahan yang diakui secara adat, agama dan hukum itu gak gampang , sama kaya latian jadi pimpinan/CEO. Kenapa ? karena harus bisa pasrah, mengutarakan keinginan dengan jelas dan mengukur kemampuan diri sendiri which is mean kalau emang gak sempat *”gak sempat ” bukan gak bisa* ya udah delegasikan saja tugasnya ke orang lain, dan belajar mempercayai orang lain bisa melakukan seperti yang kita inginkan, ga usah ngotot ikut berperan karena center point pada hari H juga kita koq ujung-ujungnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s