Tata Cara Pernikahan Adat Jawa

Jangan bosen ya ngedengrin celotehan saya soal pernikahan adat Jawa :) di saat orang-orang pada heboh dengan modernisasi saya memilih mempertahankan budaya jawa , dan karena event nya mau nikah, ya sekalian deh, buat readers yang penasaran gimana sih tata cara pernikahan adat jawa itu? sekalian deh saya kupas tuntas disini

BABAK I (PEMBICARAAN)

Tahapan ini intinya mencakup tahap pembicaraan pertama sampai tingkat melamar.

a. Congkog
Seorang perwakilan/duta diutus untuk menanyakan dan mencari informasi tentang kondisi dan situasi calon besan yang putrinya akan dilamar. Tugas duta yang utama ialah menanyakan status calon mempelai perempuan, masih sendiri atau sudah ada pihak yang mengikat.

–> Ini ceritanya nanti dilakukan pada saat lamaran H-1 sebelum kami menikah.

b. Salar
Jawaban pada acara Congkog akan ditanyakan pada acara Salar yang dilaksanakan oleh seorang duta, baik oleh duta yang pertama atau orang lain.

–> Tahap ini juga pada saat lamaran H-1 sebelum kami menikah.

c. Nontoni
Setelah lampu hijau diberikan oleh calon besan kepada calon mempelai pria, maka orang tua, keluarga besar beserta calon mempelai pria datang berkunjung ke rumah calon mempelai wanita untuk saling “dipertontonkan”. Dalam kesempatan ini orang tua dapat membaca kepribadian, bentuk fisik, raut muka, gerak-gerik dan hal lainnya dari si calon menantu.

–> sebetulnya sih bagian ini hanya simbolis sajahh, lha ya masak jaman gini ngijinin anak perempuannya mau nikah, gak diliat dulu calon menantunya kaya apa hehehe, secara real tahapan ini sudah dilakukan cami  2 tahun yang lalu ketika mulai memacari saya hahaha

d. Nglamar
Utusan dari orangtua calon mempelai pria datang melamar pada hari yang telah ditetapkan. Biasanya sekaligus menentukan waktu hari pernikahan dan kapan dilakukan rangkaian upacara pernikahan.

–> kalau menentukan hari pernikahan dan lain-lain sudah dilakukan pada saat sebelum kami bertunangan tahun 2011, gak rame-rame, waktu itu hanya ada keluarga inti cami dan keluarga saya.

BABAK II (TAHAP KESAKSIAN)

Setelah melalui tahapan pembicaraan, dilaksanakanlah peneguhan pembicaraan yang disaksikan pihak ketiga, seperti kerabat, tetangga, atau sesepuh.

a. Srah-srahan
Penyerahan seperangkat perlengkapan sarana untuk melancarkan pelaksanaan acara hingga acara selesai dengan barang-barang yang masing-masing mempunyai arti dan makna mendalam di luar dari materinya sendiri, yaitu berupa cincin, seperangkat busana wanita, perhiasan, makanan tradisional, buah-buahan, daun sirih, dan uang.

–> nah tahapan ini dilakukan pada malam midodareni, tapi ini mengingatkan saya bahwa saya belum berjalan-jalan mencari seserahan bersama mami mertua #sabar ya mami, calon mantunya ini lg sibuk di kantor (-__-!)

b. Peningsetan
Lambang kuatnya ikatan pembicaraan untuk mewujudkan dua kesatuan ditandai dengan tukar cincin oleh kedua calon mempelai.

–> Tukar cincin ini sudah dilakukan pada saat tunangan hampir setahun yang lalu, dan cincin ini sudah mengalami masa-masa sulit bersama jari dan hati saya hahaha

c. Asok Tukon
Penyerahan dana berupa sejumlah uang untuk membantu meringankan keluarga pengantin wanita.

–> biasanya ini sekalian sama paket srah-srahan dan jumlahnya pun tidak ditentukan, seikhlas pihak keluarga lelaki, karena prinsipnya jika pernikahan adat jawa biasanya yang “mantu” itu memang pihak perempuan.

d. Paseksen
Yaitu proses permohonan doa restu dan yang menjadi saksi acara ini adalah mereka yang hadir. Selain itu, juga ada pihak yang ditunjuk menjadi saksi secara khusus yang mendapat ucapan terima kasih yang dinamakan Tembaga Miring (berupa uang dari pihak calon besan).

–> ini juga nanti pada malam midodareni

e. Gethok Dina
Penentuan hari ijab kabul dan resepsi. Biasanya melibatkan seseorang yang ahli dalam memperhitungkan hari, tanggal, dan bulan yang baik atau kesepakatan dari kedua belah pihak saja.

–> nah kalau yang ini sih kami gak pake seorang ahli, karena apda dasarnya semua hari bagi kami adalah baik, hal-hal yang menjadi pertimbangan kami adalah waktu liburan jd semua keluarga bisa kumpul, kemudian tidak menganggu bulan puasa karena separuh keluarga saya muslim, dan akhir pekan sehingga tidak perlu cuti terlalu banyak dan tamu-tamu bisa datang semua karena sedang libur.

BABAK III (TAHAP SIAGA)

Pembentukan panitia dan pelaksana kegiatan yang melibatkan para sesepuh atau sanak saudara.

a. Sedhahan
Mencakup pembuatan hingga pembagian surat undangan.

–> ini sudah dilakukan sejak beberapa bulan lalu, dan sekarang undangan kami serta souvenir dan lain2 sudah jadi :) tinggal menunggu moment yang tepat saja untuk menyebar undangan hehehe

b. Kumbakarnan
Pertemuan untuk membentuk panitia hajatan dengan mengundang sanak saudara, keluarga, tetangga, dan kenalan. Termasuk membicarakan rincian program kerja untuk panitia dan para pelaksana.

–> sebetulnya pemilihan panitia harus dilaksanakan jauh sebelum acara dan ayah saya sudah menentukan siapa-siapa saja yang akan terlibat, tapi mungkin kumbakarnan disini adalah technical meeting kami dengan para vendor dan keluarga besar yang menjadi panitia, rencananya ini akan dilaksanakan pada bulan juli akhir.

c. Jenggolan atau Jonggolan
Calon mempelai melapor ke KUA. Tata cara ini sering disebut tandhakan atau tandhan, artinya memberitahukan dan melaporkan pada pihak kantor pencatatan sipil bahwa akan ada hajatan pernikahan yang dilanjutkan dengan pembekalan pernikahan.

–> bagi kami, ini namanya melapor dulu ke gereja untuk penyelesaian administrasi dan pelaporan ke catatn sipil KTP asal kami, kemudian dilanjutkan dengan pembekalan pernikahan/Kursus Perkawinan dan Penyelidikan Kanonik oleh romo paroki.

BABAK IV (TAHAPAN RANGKAIAN UPACARA)

a. Pasang Tratag dan Tarub
Merupakan tanda resmi bahwa akan ada hajatan mantu pada masyarakat. Tarub berarti hiasan dari janur kuning atau daun kelapa muda yang disuwir-suwir (disobek-sobek) dan dipasang di sisi tratag serta ditempelkan pada pintu gerbang tempat resepsi agar terlihat meriah. Bila ingin dilengkapi, boleh dilanjutkan dengan uba rambe selamatan dengan sajian makanan nasi uduk, nasi asahan, nasi golong, kolak ketan, dan apem.

–> kami akan menikah pada hari sabtu, sehingga pasang2 ini dilakukan pada hari kamis secara simbolik oleh ayah saya, selanjutnya akan dilanjutkan oleh tukang-tukang yang bertugas memasang tiang dan lain2 hehehe

b. Kembar Mayang
Sering disebut Sekar Kalpataru Dewandaru, lambang kebahagiaan dan keselamatan. Benda ini biasa menghiasi panti/ asasana wiwara yang digunakan dalam acara panebusing kembar mayang dan upacara panggih. Bila acara sudah selesai, kembar mayang akan dibuang di perempatan jalan, sungai, atau laut agar kedua mempelai selalu ingat asal muasalnya.

–> kembar mayang nantinya akan langsung dipajang, gak pake acara penyerahan supaya hemat waktu mengingat acaranya malam dan pasti akan lama kalau pake acara penyerahan dan kami harus pemberkatan pagi-pagi, jadi langsung dipasang saja.

c. Pasang Tuwuhan (Pasren)
Tuwuhan atau tumbuh-tumbuhan yang melambangkan isi alam semesta dan memiliki makna tersendiri dalam budaya Jawa dipasang di pintu masuk tempat duduk pengantin atau tempat pernikahan.

–> ini akan dilakukan pada saat dekorasi pasang-pasang tratag dan lain2

d. Siraman
Upacara Siraman mengandung arti memandikan calon pengantin yang disertai dengan niat membersihkan diri agar menjadi bersih dan suci lahir dan batin. Tahapan-tahapannya antara lain; calon mempelai mohon doa restu kedua orangtuanya, lalu mereka (calon mempelai pria dan wanita) duduk di tikar pandan, kemudian disiram oleh pinisepuh, orangtua, dan orang lain yang ditunjuk. Terakhir, calon mempelai disiram air kendi oleh bapak ibunya sambil berkata “Niat Ingsun ora mecah kendi nanging mecah pamore anakku wadon” dan kendi kosongnya dipecahkan ke lantai.

–> acara ini diakukan hari jumat pagi secara bersamaan di masing-masing rumah calon pengantin.

e. Adol Dhawet (Jual dawet)
Usai siraman, dilakukan acara jual dawet. Penjualnya adalah ibu calon pengantin wanita yang dipayungi oleh ayah calon pengantin wanita. Pembelinya yaitu para tamu yang hadir, yang menggunakan pecahan genting sebagai uang.

–> habis siraman , baru deh mama dan papa saya akan jualan dawet secara simbolik dan saya dibalikin ke kamar lagi untuk dipingit hahaha

f. Paes
Upacara menghilangkan rambut halus yang tumbuh di sekitar dahi agar tampak bersih dan wajahnya bercahaya, kemudian merias wajah calon pengantin. Paes sendiri menyimbolkan harapan kedudukan yang luhur diapit lambing bapak ibu dan keturunan.

–> nah ini dilakukan habis siraman untuk acara midodareni, habis mandi dandan :)

g. Midodareni
Upacara Midodaren berarti menjadikan sang pengantin perempuan secantik Dewi Widodari. Orangtua pengantin perempuan akan memberinya makan untuk terakhir kalinya, karena mulai besok ia akan menjadi tanggung jawab sang suami.

–> ini gak perlu dijelaskan lagi, akan dilaskanakan bersamaan dengan alamran dan srah2an…

h. Selametan
Berdoa bersama untuk memohon berkah keselamatan menyongsong pelaksanaan ijab kabul dan akad nikah.

–> selametan ini kemungkina hari kami sebelum siraman atau dibarengkan dengan midodareni.

i. Nyantri atau Nyatrik
Upacara penyerahan dan penerimaan dengan ditandai datangnya calon pengantin pria berserta pengiringnya. Dalam acara ini calon pengantin pria mohon diijabkan. Atau kalau acara ijab diadakan besok, kesempatan ini dimanfaatkan sebagai pertemuan perkenalan dengan sanak saudara terdekat di tempat mempelai pria. Bila ada kakak perempuan yang dilangkahi, acara penting lainnya yaitu pemberian restu dan hadiah yang disesuaikan kemampuan mempelai dalam Plangkahan.

–> si cami ini anak pertama jadi gak ada yang namanya pelangkahan karena dia juga laki2 , dan sayapun adalah anak tunggal, serta acara perkenalan ini sudah dilakukan pada saat kami bertunangan kemarin.

BABAK V (PUNCAK ACARA)

Puncak dari rangkaian acara dan merupakan inti acara.

a. Upacara Ijab
Sebagai prosesi pertama pada puncak acara ini adalah pelaksanaan ijab yang melibatkan pihak penghulu dari KUA. Setelah acara ini berjalan dengan lancar dan dianggap sah, maka kedua mempelai resmi menjadi suami istri.

–> pemberkatan !

b. Upacara Panggih
Setelah upacara ijab selesai, kemudian dilanjutkan dengan upacara panggih yang meliputi:

• Liron kembar mayang atau saling menukar kembang mayang dengan makna dan tujuan bersatunya cipta, rasa, dan karsa demi kebahagiaan dan keselamatan.

• Gantal atau lempar sirih dengan harapan semoga semua godaan hilang terkena lemparan itu.

• Ngidak endhog atau pengantin pria menginjak telur ayam kemudian dibersihkan atau dicuci kakinya oleh pengantin wanita sebagai simbol seksual kedua pengantin sudah pecah pamornya.

• Minum air degan (air buah kelapa) yang menjadi lambang air suci, air hidup, air mani dan dilanjutkan dengan di-kepyok bunga warna-warni dengan harapan keluarga mereka dapat berkembang segala-segalanya dan bahagia lahir batin.

• Masuk ke pasangan bermakna pengantin menjadi pasangan hidup siap berkarya melaksanakan kewajiban.

• Sindur yaitu menyampirkan kain (sindur) ke pundak pengantin dan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan dengan harapan keduanya pantang menyerah dan siap menghadapi tantangan hidup.

Setelah upacara panggih, kedua mempelai diantar duduk di sasana riengga. Setelah itu, acara pun dilanjutkan.

• Timbangan atau kedua pengantin duduk di pangkuan ayah pengantin wanita sebagai simbol sang ayah mengukur keseimbangan masing-masing pengantin.

• Kacar-kucur dijalankan dengan cara pengantin pria mengucurkan penghasilan kepada pengantin perempuan berupa uang receh beserta kelengkapannya. Simbol bahwa kaum pria bertanggung jawab memberi nafkah kepada keluarga.

• Dulangan atau kedua pengantin saling menyuapi. Mengandung kiasan laku perpaduan kasih pasangan laki-laki dan perempuan (simbol seksual). Ada juga yang memaknai lain, yaitu tutur adilinuwih (seribu nasihat yang adiluhung) dilambangkan dengan sembilan tumpeng.

–> upacara ini dilakukan sebelum resepsi di sore hari, tamu-tamu yang datang duluan akan berkesempatan menyaksikan acara ini :)

c. Upacara Babak Kawah
Upacara ini khusus untuk keluarga yang baru pertama kali hajatan mantu putri sulung. Ditandai dengan membagi harta benda seperti uang receh, beras kuning, umbi-umbian dan lain-lain.

–> Karena saya anak tunggal, jelas ini adalah kesempatan pertama mantu ayah saya, jadi upcara ini pasti akan diadakan setelah upacara temu. Rencananya nanti akan ada wayang orang yang berekeliling ruangan pesta sambil membawa berbagai macam alat rumah tangga, dan para tamu bisa mengambil sesuka hati hehehe *excited!!

d. Tumplek Punjen
Numplak artinya menumpahkan, punjen artinya berbeda beban di atas bahu. Makna dari Tumplek Punjen yaitu lepas sudah semua darma orangtua kepada anak. Tata cara ini dilaksanakan bagi orang yang tidak akan bermenantu lagi atau semua anaknya sudah menikah.

–> setelah bubak kawah, dilanjutkan dengan tumplak punjen.

e. Sungkeman
sebagai ungkapan bakti kepada orang tua serta mohon doa restu.

–> Sungkeman ini sebetulnya sudah dilaksanakan di gereja, tapi akan diulangi lagi setelah mertua saya masuk ruangan dan duduk di singgasananya.

f. Kirab
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan saat pengantin berdua meninggalkan tempat duduknya untuk berganti busana.

–> kalau yang ini kayaknya engga ada, karena kami memilih menggunakan dodotan dari awal, jadi kalau mau ganti lagi ribet dan lama, kasihan tamu2 yang sudah menunggu untuk menemui kami nantinya, jadi kami akan langsung duduk di singgasanan bersalam-salaman hehehe

Sumber : http://www.weddingku.com/traditional/tradition/1/1/jawa

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s